Semua telah terjadi. Bayang bayang gelap mendadak menyeruak di sel sela matanya yang satu jam lalu tergenang lelehan air mata.
Mungkinkah ???.
"Kesombongan adalah kelemahan yang di tutupi".
Mungkin benar apa yang di ucapkan Sang Guru itu. Kamajaya telah menderita penyakit yang lebih kronis sepeninggal Sang Guru. Kini dia menjelma menjadi monster arogan, sombong, pembual dan optimis dalam kepura puraannya. Dalam kelemahannya.
Hahh!!!.
"Pendapatmu tak semuanya benar, Tala...".
"Oh ya ?. Beritau aku dimana salahnya ?".
"Aku pikir kita tak usah mempersoalkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Kita harus akui bahwa sepeninggal Sang Guru semua menjadi beranyakan, liar, brutal dan nggak punya arah yang jelas. Tapi yang terpenting buat kita adalah bagaimana kita bisa keluar dari neraka masalah ini".
Kitala terdiam. Tapi tak lantas mengiyakan. Kalau hanya keluar dari masalah tentu sangat mudah. Lakukan saja seperti apa yang di lakukan Sugarda. Keluar dari organisasi dan bebas menentukan nasib sendiri.
Tapi persoalannya adalah bagaimana caranya mengembalikan segalanya seperti semula. Seperti yang pernah di lakukan Sang Guru.
Apakah kita hanya mengangguk saja ketika sang pembual Kamajaya dengan pongahnya menobatkan diri sebagai pemimpin ?. Ah!! Jangankan mensejajarkan. Bahkan air ludah Sang Gurupun lebih berharga dari seluruh jasad dan nyawanya.
"Ah!. Permata....Permata...!. Darimana kita harus memulai ?. Bukankah semua telah tercerai berai ?. Aku pikir tak ada lagi yang sanggup menggantikan Sang Guru dalam memimpin organisasi ini. Titik!!".
"Dan kamu akan cabut ?"
Kitala terhenyak.
Cabut ?.
Memisahkan diri dari kawan kawan yang lima tahun terakhir ini selalu memberi arti ?.
Tidak!!. Sedikitpun pikiran jorok itu belum menyentuh otaknya. Cabut berarti keluar dan mengingkari semua yang telah di rintis Sang Guru.
Tidak !!!.
"Lantas apa bedanya kamu dengan Sugarda ?. Jangankan mencoba bangkit, memikirpun enggan. Sekedar menolak Kamajaya tanpa memberi solusi ?" tukas Permata.
"Atau mungkin organisasi ini di pegang saja oleh para senior yang udah ketahuan lembek ?. Siapa yang sanggup ?. Kamu ?. Aku ?. Sugarda ?. Atau siapa ?. Gak ada yang bisa !!".
Kali ini Kitala benar benar tersudut.
Betul apa kata Permata. Para senior adalah tipe penerus yang lembek. Termasuk ...??. Kitala.
Padahal senior justru lebih punya kewajiban.
"Tapi ini persoalannya lain Permata !!".
"Sudahlah !" sergah Permata sewot."Pikirkan masak masak. Kalau kamu tetap saja diam dan tak mau ambil bagian dalam organisasi ini, lebih baik kamu out saja!. Oke ?"
Tak ada kalimat yang keluar dari bibir Kitala. Petuah Permata memang cukup rasional. Tapi tidak serta merta menurunkan beban. Kitala tetap teguh pada pendiriannya. Bahwa organisasi ini harus di pegang oleh orang yang benar. Yang betul betul mampu menjadi lidah Sang Guru. Bukan oleh Kamajaya sang pembual itu.
@@@@
Angin malam kembali menyeruak. Ribuan nyamuk merangsekl menerobos jendela. Kibasan hawa dingin tiba tiba ikut ambil bagian menelanjangi tubuh Kitala yang menggigil pucat. Kitala tak beringsut mencabut selimut dari dalam lemari kusutnya. Tatapannya tetap kosong menerawang langit.
Ini adalah malam ke 41 tanpa Sang Guru. Sama seperti kemarin. Tetap kosong, hampa dan tak bergairah. Bahkan mungkin lebih parah lagi. Kamajaya yang kini di daulat memimpin organisasi samasekali tak memahami persoalan. Dia seperti kehilangan visi. Matanya di butakan oleh sanjungan. Padahal semua orang tahu, bahwa sebagian besar anggota, termasuk Sugarda dan mungkin Permata telah kembali ke habitatnya semula. Kembali menjadi pecandu dan berkawan dengan barang haram itu. Semua orang hanya berbicara soal siapa memimpin siapa. Padahal persoalan berat menghadang di depan mata. Ancaman degradasi moral....!!!.
"Semua telah berakhir, Tala. Gak ada gunanya mempertahankan ideologi sempitmu, Tala " kata Sugarda tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Sang Guru bilang, memikirkan masalah justru akan menambah masalah. Lebih baik lupakan semua. Dan kita kembali ke habitat semula...".
"Segampang itukah ?" serang Kitala nyinyir.
"Menjadi manusia bebas adalah sebuah kebahagiaan"
Ceroboh!. Kalau kembali menjadi biadab, pemabuk, pecandu, pemalas dan pengedar macam Sugarda dan kawan kawannya, lantas apa gunanya Sang Guru ?. Apa artinya jerih payah Sang Guru yang dengan gigih mengangkat harkat kita, melayani kita dengan kesabaran yang luar biasa. membelai dengan seribu cinta dan menggambar mimpi kita dengan galeri indah nan memukau.
"Kamu telah tersesat Sugarda!!!".
Sugarda menggeleng. Jari telunjuknya bergoyang sinis di depan mata Kitala.
"Tidak ada yang tersesat. Bila kamu berkata demikian maka artinya Sang Guru juga tersesat".
"Hahh!!! Lancang kamu, Sugarda !!".
"Dengar Tala" Sugarda membela, " Kepergian Sang Guru aalah bukti nyata bahwa dia menghendaki kebebasan. Dia egois. Meninggalkan pekerjaan yang belum selesai. Kalau dia manajer bertanggung jawab tentu ia paham bagaimana ia harus melakukan regenerasi yang tepat. Bukannya pergi malah meninggalkan maalah !" lanjutnya bersungut sungut.
Masya Allah Sugarda!.Mungkinkah ia sedang mabuk ?. Ataukah aku sendiri yang tak memahami perubahan ?.
Kitala meragu. Perasaan kalut membayangi pikirannya. Segalanya telah berubah menjadi abu abu. Culas, menipu dan bengis. Memikirkan masalah justru menambah masalah. Menjadi orang bebas adalah ujung kebahagiaan.
Ah!! mana yang benar ?.
@@@
Sayup sayup terdengar adzan subuh di ujung jalan. Kitala tersentak. Kilatan putih menghajar kelopak matanya. Perih dan menyesakkan. Ia segera berlari menyisir lorong jalan yang tampak senyap. Meraih air wudlu dan mengambil posisi pojok dekat perpustakaan masjid sembari berharap tak seorangpun berani mengganggunya. Bahkan ketika shalat di mulaipun ia telah mengkavling shaf paling belakang. Selain nyaman juga bisa pulang awal tanpa di ketahui orang lain.
"Tala..."
Bisikan itu tak ayal menodai kenyamanan Kitala yang sedang khusuk membaca tasbih.
"Permata...".
"Kamajaya telah pergi...".
"What ???".
Permata mengangguk kecil. Rasanya ia tidak berbohong.
"Sang Guru menjemputnya dalam mimpi".
"Darimana kamu tahu ??" Kitala penasaran.
"Sehari yang lalu ia bercerita padaku".
"Kamajaya ?".
"Ya..".
Tak masuk akal. Tapi tak mungkin Permata bohong.
Sang Guru ?. Ada apa dengannya ?. Apakah ini berarti dia tak mengijinkan Kamajaya menaburkan angkara murkanya ?.
Ya...!. Sang Guru memang harus menegur pembual tolol itu. Tapi kenapa Kamajaya ?. Bukan Sugarda ?.
Sebuah tanda tanya besar memenuhi benak Kitala. Kalut, bimbang dan serba salah. Ia harus mengakui bahwa ia selama ini tak pernah sejalan dengan Kamajaya. Setidaknya sepeninggal Sang Guru. Tapi kesalahan bukan semuanya mesti di timpakan pada kamajaya. Para senior, aku, Permata, Sugarda serta semua orang yang membiarkan Kamajaya berjalan di ruang yang salah.
"Cantumkan juga nama sang Guru"
"Apa ?" Kitala seperti tak percaya. "Apa aku tak salah dengar ?".
"Aku pikir Sugarda benar. Sang Guru tak mampu membuat perubahan nyata. Sang Guru terlalu egois. Membiarkan kita berjalan sendiri sendiri tanpa planning yang kongrit. Kepergiannya terkesan mendadak dan di paksakan. Mungkin memang Sang Guru sedang kebingungan. Sehingga ia lupa bahwa organisasi butuh pemimpin. jadi bila demikian, bukankah justru kesalahan terbesar ada di Sang Guru ?".
Ya Tuhan!. Kitala tercengang. Bukan karena opini Permata. Tapi justru ia heran dengan apa yang terjadi pada Permata. Bukankah selama ini Permata terkenal santun, rendah hati, loyal dan tak suka mengacungkan telunjuk jari ?. Kenapa ia sekarang tak ada bedanya dengan Sugarda yang dengan entengnya menghina Sang Guru ?. Ada apa ini ?.
Sore itu selepas pemakaman Kamajaya berakhir, beberapa orang tampak berkumpul di markas. Sudah dapat di pastikan bahwa Permata akan segera di daulat sebagai pemimpin organisasi. Dan bisa di duga tak ada satupun makhluk yang mampu mencegah Permata berkuasa. Permata yang santun tapi munafik, Permata yang lembut tapi menjijikkkan. Kalau di tangan kamajaya saja hampir separuh anggota panti rehabilitasi telah kembali menjadi pecandu, bagaimana jadinya bila organisasi ini di pegang Permata yang ia tahu sangat dekat dengan Sugarda. Sang biang kerok yang sekarangpun pindah profesi sebagai seorang bandar narkoba. Hahhh!!!!.
Rasanya bumi telah hancur berkeping keping. Ibarat lepas dari mulut buaya jatuh dalam terkaman srigala. Seolah tak ada jalan lain. Semua orang telah tersesat bahkan lebih tragis. Gairah yang tanpa perubahan. Semua orang telah menganggap dirinya benar.
Malam telah menjemput siang. matahari tenggelam di mangsa pekat. Ribuan makhluk bertiarap dalam kesunyian. gelap gulita menyambar di setiap sudut bumi. Tiada suara, tiada bising. Semua hening dalam kekosongan. Entah ini hari ke berapa. Jangankan menghitung hari, bayang Sang Guru pun telah raib dari otak mereka. Sang Guru telah sirna dan semua kembali seperti semula.
Bicara tanpa makna
Menari tanpa seni
Dan beriring menuju kegelapan
@@@@
"Tala...".
Entah suara itu datang darimana, yang jelas tiba tiba terhampar sosok pucat di hadapan Kitala.
Sugarda!!!.
"Tolong aku Tala !" semburat Sugarda mencengkeram tangan Kitala. Sementara matanya celingukan seolah berusaha mencari tempat yang aman.
"Ada apa Sugarda ?" Kitala mencoba meronta, tapi tangan kokoh Sugarda makin kuat menahannya.
"Dia.....dia...." lidahnya terasa kelu, kerongkongannya seolah kering di liputi rasa takut yang mencekam. Wajahnya yang pucat makin terlihat pucat.
"Dia siapa ?"
"Dia...."
Brakkk!!!!
Terdengar suara ledakkan di ruang depan.Pintu terdobrak. Sugarda makin ciut nyalinya. Sementara Kitala yang masih di landa kebingungan segera berlari ke depan untuk memastikan apa yang terjadi.
Brakkk!!!!
Kitala terhenti. Kali ini hentakkan itu terdengar sangat keras. Bukan sekedar suara pintu di dobrak. Tapi mungkin bangunan runtuh atau pohon tumbang.
Kiamat ???
Sedetik kemudian terdengar suara gemuruh di sertai jeritan histeris bersahut sahutan menyayat hati. Bumi berguncang hebat, benda benda berterbangan tak karu karuan. Lemari buku yang hanya berjarak lima meter dari tempat Kitala berdiri, ambruk. Kitala beringsut mundur, namun terlambat. Sebongkah kayu sepanjang dua meter menghantam keningnya. Matanya berkunang kunang, kepalanya terasa berat, bumi berputar putar dan iapun ambruk mencium tanah.
Mungkin Tuhan enggan menimang raga kita
Atay mungkin Sang Guru sedang mengutuk kita
Tapi yakinlah teman...
Kau adalah kidung indahku
Yang khan slalu menyelimutiku
Kau pulalah nyawa batinku
Yang temani damai hatiku
Kitala terus mengepakkan sayapnya menuju angkasa biru. Terbang menuju peraduan abadinya. Bersama Kamajaya, bersama Sugarda, bersama sang Guru dan bersama mereka yang menjual nyawanya pada benda benda neraka......!!!
Kebakkramat, 2001
Tidak ada komentar:
Posting Komentar