Kamis, 30 Juni 2011

FROM BLITAR WITH LOVE


oleh Mohammad Hafidz Atsani pada 30 Juni 2011 jam 19:22
“Hurub Hambangun Praja”
Artinya ‘semangat membangun negara’. Inilah motto terkenal yang selalu mengiringi perjalanan Kabupaten yang terletak di kaki Gunung Kelud dengan Sungai Brantas yang membelah Blitar menjadi dua bagian. Blitar menurut buku ‘Bale Tatar’ berasal dari kata ‘Bali Tartar’. Penggunaan istilah ini sebagai nama Kota di mana Sang Proklamator di makamkan rupanya menjadi semacam peringatan akan sebuah peristiwa heroic masa silam. Di ceritakan, pada jaman pemerintahan Prabu Kertanegara di Singasari (daerah Malang) Raja Mongol Kubilai Khan yang telah sukses menginvasi Annam (Vietnam Utara), Champa (Vietnam Selatan), Kamboja, Burma hingga ke Thailand berhasrat ingin menyempurnakan penaklukannya dengan meluaskan wilayahnya hingga ke pulau Jawa. Maka di utuslah duta besar Mongol ke Kerajaan Singasari guna memaksa penguasa Singasari kala itu (Prabu Kertanegara) agar tunduk di bawah ketiak Kubilai Khan. Namun sial, bukannya Prabu Kertanegara bersedia tunduk dan mengirim upeti pada Kubilai Khan, justru penguasa Singasari itu meledek Kubilai Khan dengan memotong kuping sang duta dan mengusirnya.
Mendapati utusannya di perlakukan demikian, maka marahlah sang Kubilai Khan kemudian mengirim tak kurang dari 20.000 balatentara (di sebut Tentara Tar Tar) pada tahun 1292 yang di pimpin jendral Ike Mese, Kau Hsing dan Shih Pi menuju pulau Jawa guna menghukum Kertanegara sekaligus menakhlukkan Pulau Jawa. Sesampainya di pulau Jawa, balatentara Tar Tar mendapati Pulau Jawa dalam keadaan telah rusak akibat perang antara Jayakatwang (Bupati Gelang Gelang) dan Prabu Kertanegara yang berakhir kekalahan di pihak Kertanegara. Tewasnya Kertanegara di tangan Jayakatwang rupanya tidak menyurutkan niat Tentara Tar Tar untuk membalas dendam. Ketika tahu bahwa Kertanegara masih menyisakan pewarisnya di Perdikan Majapahit, maka tentara Tar Tar bergegas ke desa Majapahit guna menangkap pewaris Kertanegara.
Adalah Raden Wijaya putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti alias Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok pendiri Wangsa Rajasa sekaligus menantu dari Prabu Kertanegara yang kemudian hendak di tangkap tentara Tar Tar untuk di bawa menghadap sang Kubilai Khan. Mendapati tentara Tar tar hendak menangkapnya, raden Wijaya lalu bersiasat. Dia bersedia tunduk pada Raja Mongol asal tentara Tar Tar bersedia membantunya mengalahkan Jayakatwang. Siasat ini kemudian di sanggupi tentara Tar Tar. Maka tak lama kemudian gabungan tentara Tar Tar dan Majapahit yang juga di bantu Arya Wiraraja dari Sumenep bergerak ke Kediri dimana Jayakatwang berkuasa. Perang dahsyat terjadi di Kediri, tak kurang dari 5000 prajurit Kediri tewas. Jayakatwang kemudian di tawan tentara Tar Tar.
Setelah mengalahkan Jayakatwang, raden Wijaya meminta ijin untuk kembali ke Majapahit guna menjemput keluarganya dengan kawalan tentara Tar Tar. Sesampainya di Majapahit, bukannya membawa keluarganya untuk menyerahkan diri pada Tentara Tar Tar, justru Raden Wijaya memerintahkan prajuritnya balik menyerang tentara Tar Tar. Kontan saja tentara Tar Tar yang sama sekali tidak mengira bakal mendapat serangan mendadak dari pihak Wijaya kocar kacir dan melarikan diri ke hutan di selatan Blitar. Kekalahan tentara Tar Tar ini menandai naiknya Raden Wijaya sebagai Raja di tanah Jawa yang berkedudukan di Majapahit berjuluk Prabu Kertarajasa Jayawardhana.
Setelah naik tahta, upaya Raden Wijaya untuk mengusir sisa sisa tentara Tar Tar belumlah padam. Maka di utuslah Nilasuwarna memimpin pasukan Majapahit guna menumpas tentara Tar Tar yang bersembunyi di hutan selatan. Misi ini sukses di jalankan Nilasuwarna, kemudian Prabu Kertarajasa jayawardhana menganugerahi Nilasuwarna tanah di hutan dimana tentara Tartar berhasil di tumpas. Hutan itu kemudian di beri nama Balitar (Bali Tar Tar ) untuk mengenang kekalahan telak tentara Tar Tar. Nilasuwarna di nobatkan sebagai bupati di Balitar (Blitar) dengan julukan Adipati arya Blitar.

Itulah sekelumit mengenai kota Blitar. Kota yang menurut saya sangat sejuk. Tanahnya subur, berwarna abu-abu kekuningan, bersifat masam, gembur dan peka terhadap erosi. Maka tak heran, Blitar adalah penghasil Padi, Tembakau dan sayur mayur dengan kualitas terbaik. Selain itu, Blitar juga terkenal dengan produk buah buahannya loh. Apalagi buah Belimbing dan rambutannya. He he he ….. (thanks mas Alvin yang udah ngasih sekardus rambutannya).
Tour Gubraker ke Blitar start jam 5.30 WIB mengambil rute Karanganyar-Sragen-Nganjuk-Kediri trus Blitar membawa serta 9 Gubraker Solo. Sempat nyasar Bojonegoro sekitar 5 km, tapi akhirnya sukses juga mencapai Blitar. Dan sesuai rencana, kami mengambil tempat makam Bung Karno sebagai lokasi pertemuan. Ini yang saya sebut uniknya Gubrak. Pertemuan gubraker sejauh ini paling sering kalau nggak di Pesantren, kakilima, ya di kuburan (Padahal komunitas lain yang berhubungan dengan kuburanpun belum tentu se ekstrim Gubrak yang menggunakan kuburan sebagai ajang silaturahmi). Hehehehe ….
Di pos depan makam kami langsung di sambut belasan Gubraker Blitar (ada mas Adie Rey, mas Tawakal, mbak Ajeng Dewi dll). Suasana sangat akrab, saya merasa Blitar adalah kampung halaman sendiri. Setelah ramah tamah, kamipun langsung memasuki komplek makam. Di sana sudah ada mas Imamudin (Gubraker Sidoarjo), mbak Arina (ini orangnya lumayan cerewet, tapi asyik di ajak ngobrol). Ada lagi Yunnairaa (kalau yang ini bukan orang baru di Gubrak. Dia masuk kelompok assabiqunal awwalunnya Gubrak. So, tahu persis gimana awalnya Gubrak di rintis). Persisnya nggak ngitung, tapi perkiraan ada 25 lebih Gubraker yang saat itu ngluruk di makam BK.
Pertemuan di Blitar ini menjadi yang pertama terbesar sepanjang sejarah Gubrak. Dan asyiknya, kalau biasanya di DKI kita ketemunya sama yang tua tua, di Blitar mayoritas penGubraknya adalah anak muda. Umurnya rata rata 20an (dan yang pasti banyak singlenya). Makanya buat Gubraker yang masih lajang, jangan kemana mana, segera hubungi Gubraker Blitar. Kali aja berjodoh. Heheheheh….
Acara di mulai dengan tahlil jamaah di makam BK, di pimpin sahabat saya mas Slamet (yang ini kyai beneran lohh). Sama seperti ketika saya ke Tebu Ireng, makam BK juga tak pernah sepi dari peziarah dari berbagai daerah baik muslim maupun nonmuslim. Semua berdoa sesuai dengan keyakinannya masing masing.
Selepas dari makam BK, kami kemudian di ajak berkeliling Blitar dan menikmati tongkrongan warung bakso terkenal di Kota Blitar. Di sini suasanan sangat cair, bahkan saya sempat di tantangin panco sama salahsatu sobat Gubrak Blitar (dan kalah 3-0). Maklum musuhnya khan pesilat. Ha ha ha ha
Ada pesan indah dari Gubraker Blitar untuk kita semua. Bahwa gerakan ini tidak boleh berhenti, harus ada tindak lanjut yang terukur. Sudah saatnya kita menunjukkan jati diri. Bahwa tanpa sokongan dana yang kuat ataupun dukungan politik dari pemangku kekuasaanpun kita mesti yakin BISA!!!. Kalau bukan kita yang berusaha merawat negeri ini siapa lagi ???.


Blitar kutho cilik sing kawentar
Edi peni gunung Kelud sing ngayomi
Blitar jaman Jepang nate gempar
Peta brontak sing dipimpin Supriyadi
Blitar Nyimpen awune sang noto
Mojopait ning candi Penataran
Blitar nyimpen layone Bung Karno
Proklamator lan presiden kang kapisan

Ono crito jare Patih Gajah Modo
Ingkang bisa nyawijikne nuswantoro
Lan ugo Bung Karno sing kondang kaloko
Ning tlatah Blitar lair cilik mulo

Ora mokal Blitar dadi kembang lambe
Ora mokal akeh sing podo nyatakne
Yen to geni ngurupake semangate
Yen to banyu nukulake patriote


Terima kasih untuk sambutan dahsyatnya…
Thanks mas Alvin, rambutannya manis banget..
Thanks adikku, Yunnairaa. Jamuan makannya bikin tambah gemuk. Makasih juga kaosnya untuk dua buah hatiku
Makasih mas Imam atas hadiahnya…
Makasih juga para pendekar SH Terate Kota Blitar. Wis pokoknya kalau urusan bentrokan, Gubrak pasrah ke sampean semua…
He he he he
Makasih juga buat sobat Gubrak se Solo yang udah meluangkan waktu berkunjung ke Blitar.
Buat Gubraker daerah lain, kapan nih kita ketemuan ????

Selasa, 07 Juni 2011

GUBRAK : Gerakan Untuk Bangun Rada Awal Kawan (bagian tiga)

Pinter saja tidak cukup…
Sebelum di hajar rame rame, kapasitas seseorang belum dapat di nilai.

(kalimat ini saya ambil dari kiriman sms dari Gubraker Tangerang, Dyah Rajapatmi salma)


Tidak mudah memang. Bahkan pekerjaan yg sebenarnya bermanfaatpun tak luput dari cercaan. Nggak banyak memang, dan kami memakluminya sebagai salah paham atau mungkin sekedar cara gubraker untuk menarik perhatian operator.
Hampir setiap hari kami menerima sms dari anggota. Mulai dari sekedar request kata kata mutiara, mengirimkan biodata, sekedar ucapan selamat pagi, meminta nope anggota lain, hingga caci maki yang kadang nggak jelas arahnya.
Banyak jengkel, tapi pekerjaan ini secara garis besar merupakan hiburan menyenangkan yg tiada tergantikan. Jangankan lowong sehari, terlambat mengirimkan smspun rasanya kok ‘gelo’ (menyesal) banget. Khan nggak semua anggota bangunnya siang hari. Bagi yang biasa puasa keterlambatan sms bisa mengganggu ibadahnya, bukan?. Hehehehe…

Beberapa teman menyatakan kepada kami dengan sangat jujur, bahwa mereka masih sangat curiga dengan motif kami.
~ Kemana arahnya ?
~ Siapa di belakangnya ?
~ Siapa donaturnya ?
~ Adakah usaha mengarahkan kegiatan ini untuk kepentingan politik tertentu ? Pertanyaan yang menarik dan tentu harus mendapatkan jawaban yang juga jujur dan transparan.


Dari segi pendanaan.

Awalnya terus terang kami memanfaatkan program sms gratis dari operator tertentu (IM3). Dulu khan kalau pulsanya 5000 gratis 50 sms. Kalau di atas 10000 gratis 100 sms. Dan ini berlangsung beberapa bulan. Karena nyatanya makin hari peminatnya makin membengkak yg akhirnya tidak bisa lagi tercover dengan gratisan IM3. 100 nya gratis, tapi lanjutannya malah bikin jebol pulsa. Sebab tarifnya jauh lebih mahal. Belum kalau ada anggota yg minta konsultasi. Hancuurrrr minaaaaa….
Akhirnya kami memanfaatkan layanan langganan sms bulanan dengan operator lain (pake XL lagi dehhhh…). Kami mengeluarkan biaya 25000/bulan untuk sms tak terbatas.
Akhirnya…..???. Udah kepalang tanggung. Kita manfaatkan semaksimal mungkin, sekalian biar operator tahu kalau kami sangat berpotensi membuat bangkrut perusahaan. Ha ha ha….
Dari 100 ke 200 ke 300 dan…..hingga 500 lebih. Di sini kami menemui kendala teknis yg sebelumnya tak pernah di duga. Grouping di HP N3500 kami nyatanya Cuma mentok 25 group (isi 25/group). Artinya kami hanya bisa mengirim secara random ke 500 anggota. Sisanya mesti manual.
Kalau begini caranya bisa repot dehhh….!. Jari jari bneran bakal keriting kalau di paksa sms konsep manual.
Untung HP kami ada 2. Tepatnya HP bini. Heheheh…!. Akhirnya sisa tugas kami alihkan ke HP satunya lagi. Dan tentu konsekuensinya mesti bayar lagi. Bayar lagi dan langganan lagi…..!. sebulan 50000 buat operasional sms doang.
Tapi nggak apa apalah. Banyak kok manfaatnya. Terutama buat diri sendiri. Selain bisa rutin bangun pagi, juga sejak tiap ba’da isya’ ada tugas sms, saya jadi jarang nongkrong di warung depan. Ha ha ha….! Rada irit….
Terus terang semua biaya di atas nggak ada yg mendonasikan untuk kami. Cuma 50000 aja nggak berat berat amat. Yang berat khan bangun paginya……


Trus kalau di tanya arahnya kemana ??.
Ha ha ha….
Buat yg pernah baca artikel sebelumnya, tentu ketemu jawabannya. Gubrak ini komunitas nasionalis. Semua hal mengenai gubrak adalah upaya untuk menguatkan gairah keIndonesiaan. Nggak kurang, nggak lebih (soalnya kalau pengen dakwah, bukan kyai sihhh).
Soal afiliasi politik ???
Ha ha ha….
Yang ini aku malah bingung. Ada sih tawaran. Tapi kok belum ada greget ya..???
Buat kami, nggak ada yang lebih indah dari kebebasan berbicara. Dan berada di luar sistem rasanya sangat pas untuk kami yg dari dulu memang bercita cita menjadi oposisi sejati. Bukan apa apa. Negara ini butuh lebih banyak orang yg bisa konsisten tampil kritis dan mengontrol setiap derap langkah kehidupan.
Emang sih nggak ada duitnya. Tapi, kebebasan untuk sebagian orang jauh lebih mahal dari apapun.
Kawan kami hanya kebenaran. Dan saya siap lengser dari Gubrak kalau nyatanya di ujung cerita kami ikut masuk struktur Partai tertentu. Bukan Cuma lengser kayaknya. Siap di hujat juga. Hahahahahah


Uang bisa di cari. Tapi kebebasan berbicara, kemana kita mencari….


Thank’s buat kawan kawan yang berkorban banyak buat Gubrak…..

oleh : Mohammad Hafidz Atsani