Siapakah engkau.?
Yang mengusik sepiku diam-diam
Yang hadir seperti matahari menghangatkan
Tapi sekaligus membakar
Ataukah engkau bintang
Yang hanya bisa kupandangi
Tanpa bisa kusentuh
Jika bisa. . .
Kuharap engkau air
Meski tak tergenggam
Tapi menyejukkanSaat aku belajar untuk mencintaimu lagi
Jangan pernah palingkan muka
Walau kau enggan menunggu
Ketika aku mulai berada dalam galau, Genggam tangganku
Dan pastikan kau akan bersamaku selalu
Saat waktu menerpa kasih yang telah aku susun
Bantulah aku menatanya kembali
Andaikan terik matahari membuatnya kering
Sirami ia kembali dengan kasihmu
Agar ia seindah duluBegitu sulit mengawali langkahku yang kian berat
Menegakkan pundakku yang kian penat
Menyusuri lorong gelap yang tak berujung ini
Dengan terpaan angin di wajahku
Yang membuatku kaku
Kunyalakan sebatang lilin
Kuhangatkan tubuhku yang mulai beku
Kulindungi cahayanya dari tiupan udara
Agar hawanya masuk kedalam sukma
Dan menghangatkan jiwaku
Sejenak kulihat wajahmu melintas
Akupun tersadar seketika meliatmu tersenyum
Seraya membuka tangannya lebar
Seakan memberiku semangat
Dan siap menyambutku dengan hangat
Saat itu juga aku bangkit
Meraih lilinku yang mulai meleleh
Cahaya lemahnya menuntun langkahku
Menuju seberkas sinar di ujung sana
Pada sebuah kedamaian kecil
ada tinta menari lesu
dan jari-jari mula bersabda
bantulah aku
bantulah aku.
Dan ketikanya
ratapan agung yang memuncak
dikelahi tabir-tabir cinta mengharap
dari pagi ke dinihari
dari subuh ke senja begini
tunggu Izrail menjemput nanti.
Tuhan,
ajarkan aku arti takwa, latihkan
diri berkhairatkan pahala
gersang meneroka bias-bias haloba
menuntut nafsu raja.
Dari kalbu yang dingin ini
Ampunkan aku Tuhan!
Saatnya malam ini kau tertawa...
Mengenang masa penuh bahagia
Bercengkrama dan bertukar kata
Saling mengurai lakon hidup yang berbeda
Tapi, Reuni..
Mungkin kau juga harus menangis
Di tengah harpa dan biduan yang bernyanyi
Sesal..
Hadirmu tak berarti lagi disini
Reuni..
Apa lagi yang kau cari disini
Hanya menambah sepi dan marah dihati
Sekali lagi, Reuni...
Sudilah kau tuk beranjak pergi
Aku tak mau habiskan waktuku disini
Bersama seonggok duri
Tak berbekas di hati
oleh Kakashi Sastro
Tidak ada komentar:
Posting Komentar